Pendapat "Tuhan, Imajinasi Manusia, dan Kebebasan Mencipta" karya H.B. Jassin
Tuhan, Imajinasi Manusia, dan
Kebebasan Mencipta
karya H.B. Jassin
SIFAT 20
menyebutkan bahwa Tuhan Melihat. –Apakah Ia punya Mata? Tuhan Mendengar.
–Apakah Ia punya Mulut? Punya Lidah? –Kalau Tuhan bisa murka sebagaimana
dikatakan dalam Al-Quran, mengapa Ia tidak bisa Tersenyum atau Tertawa?
Tidak! Tidak semua itu!! Apa pun pertanyaan kita dan
apa pun jawaban kita, senantiasa Ia lebih dari mempunyai sifat dan keadaan yang
bisa kita gambarkan. Ia adalah Mukhalafat lil hawadith, beda dari segala yang
baru.
Tuhan terlalu Besar untuk bisa dimengerti. Kita
hanya dapat menggambarkan-Nya dengan kemampuan kita masing-masing dan kita tahu
bahwa gambar itu bukan Tuhan. Tetapi sebagai manusia pencari, kita mau
menggambarkan-Nya juga, seperti kata Amir Hamzah:
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa
Maka apabila seorang pengarang atau seorang pelukis
menggambarakan Tuhan dengan kata-kata, dengan lukisan, ataupun dengan patung,
dia tahu bahwa itu bukanlah Tuhan, tapi Ide Ketuhanan. Demikian pula orang
lain, umat yang melihat, mereka tahu bahwa itu bukanlah Tuhan, tapi ide
Ketuhanan.
“Untuk
melihat pekerjaan Tuhan, lihatlah pekerjaan diri sendiri,” kata penyair Rumi.
Tentulah bukan maksud Rumi hendak menghina Tuhan dengan ucapan ini.
Larangan
untuk “mempersonifikasikan” Tuhan, sekalipun hanya dalam imajinasi, sama dengan
meniadakan Tuhan dalam hati sanubari kita.
Jangankan Kenyataan Tuhan, kenyataan manusia saja
pun tidak dapat dicakup oleh manusia. Tatkala seorang pengarang membuat sebuah
novel tentang diri saya, saya tidak merasa bahwa pengarang itu telah berhasil
melukiskan seluruh eksistensi diri saya dan meskipun ada sudut-sudut negatif
yang disorotinya, saya tidak merasa terkena, karena pandangan itu adalah
pandangan dari sudut si pengarang belaka. Saya merasa lebih tahu dan dapat
mempertanggungjawabkan apa yang dianggap sebagai kesalahan saya dari sudut yang
baik. Dan saya tidak perlu marah, karena bagaimana pun juga, suatu hasil karya
adalah hasil imajinasi artistik yang tidak identik sama dengan kenyataan
objektif.
Dengan
demikian saya pun tidak berpendapat bahwa Tuhan menjadi murka, karena manusia
masing-masing mempunyai tanggapan yang terbatas mengenai Zat-Nya yang tidak
tersebut dan tidak terbayangkan secara lengkap apalagi sempurna. Zat-Nya yang
entah berapa dimensional hanya kita tanggapi dengan pikiran kita sebagai manusia
yang tiga dimensional.
Orang menguatirkan apabila tuhan digambarkan dengan
sifat-sifat manusia, mungkin orang akan terlalu meremehkan-Nya. Misalnya Ia
digambarkan pilek (selesma), sakit keras atau mungkin juga mati. –Zat yang Maha
Tinggi tak mungkin mati dan Ia tidak mati meskipun orang seribu kali mengatakan
Ia telah mati. Mati hanyalah pengertian dalam benak si pengarang, atau dalam
arti yang lain sebagaimana matinya-Nietzsche ialah Ide Ketuhanan dalam hati
manusia yang memperalat Tuhan untuk kepentingan dirinya sendiri.
Beberapa tahun yang lalu saya bercakap-cakap dengan
seorang pelukis yang mengatakan bahwa ia merasa tertekan jiwanya karena tidak
leluasa dapat mengekspresikan dirinya dengan lukisan akibat larangan dalam
agama. Ia pun ingin mengembangkan bakatnya dalam seni pahat, tapi senantiasa ia
terbentur pada orang-orang yang melarang pemahaman bentuk benda yang bernyawa,
baik manusia maupun binatang.
Saya kira seniman-seniman Barat dalam hal ini
mempunyai kebebasan yang lebih besar dan sejarah nabi-nabi menjadi sumber yang
tak kering-keringnya bagi imajinasi seniman-seniman Barat yang kaya. Mereka
menggambarkan kelebihan Nabi Isa, peristiwa-peristiwa dalam perjalanan hidupnya
menyebarkan cinta kasih sampai-sampai kepada kematiannya yang penuh pengorbanan
dan penderitaan. Mereka dalam imajinasinya menghayati kembali perjalanan hidup
nabinya dan orang yang melihat karya-karya mereka pun dapat merasakan kembali
suasana pengabdian yang tulus dan ikhlas itu. Dengan demikian agama dan
Ketuhanan bukan sesuatu yang berada di luar diri, tetapi dihayati dengan badan
dan jiwa.
Malahan Tuhan
digambarkan sebagai orang tua yang turun dari awan-gemawan membawa seorang bayi
yang akan dititiskannya ke dalam rahim gadis bernama Maria yang sedang lelap
tidur di bumi. Si pelukis pastilah tahu bahwa yang digambarkannya itu bukanlah
Jeus yang pernah hidup dan bukan pula Tuhan yang lain dari segala yang lain,
tapi ide abstrak yang diaktualisasikan supaya dimengerti oleh manusia.
Dalam tahun 1948 timbul heboh karena sebuah sandiwara
radio Bahrum Rangkuti –sekarang Kepala Pusroh Angkatan Laut Republik
Indonesia-berjudul Sinar Memancar dari Jabal An-Nur di mana ditampilkan adegan
Nabi Muhammad menerima wahyu yang pertama di Gua Hira melalui mikrofon. Rapat
raksasa diadakan di mana-mana sebagai protes, karena peristiwa itu dianggap
sebagai penghinaan terhadap agama dan Rasulullah. Tapi tatkala drama itu juga
dimuat dalam majalah, tidak ada reaksi apa-apa
Disayangkan bahwa dalam polemik yang terjadi tidak
dikemukakan alasan-alasan ilmiah berdasarkan ayat-ayat Al-Quran dan hadis, pun
tidak dicoba dimengerti persoalan dari sudut perkembangan teknik modern dan
ilmu jiwa masyarakat yang dinamis.
Pengarang Di Bawah Lindungan Ka’bah pun pernah
diserang karena ia sebagai ulama mengarang roman-roman yang bertemakan
percintaan. Padahal melalui roman pun pengarang dapat menjalinkan pikiran yang
tinggi-tinggi dan mulia-mulia dan dengan demikian mengisi jiwa manusia.
Kita telah menikmati film-film dari Barat
menceritakan perjalanan hidup Nabi-nabi seperti Quo Vadis, King of Kings, The
Ten Commandments, Buddha. Dalam Quo Vadis diperlihatkan bagaimana Nabi Isa as.
Menyebarkan ajarannya dengan berbagai penderitaan. Dalam The Ten Commandments
bagaimana Nabi Musa as. menerima wahyu yang pertama dari Tuhan dan mukjizat
Tuhan membelah Laut Merah jadi dua untuk memberi jalan kepada pelarian kaum
Yahudi menyelamatkan diri dari kejaran tentara Fir’aun.
Dan kita bertanya kapankah para sineas Indonesia
memfilmkan pula peristiwa-peristiwa bersejarah dalam Al-Quran dan sejarah
gemilang kerajaan-kerajaan Islam dalam masa jayanya?
Kebebasan mencipta adalah soal yang penting
dipikirkan dan disadari oleh para seniman, terutama seniman muda yang hendak
mengabdikan seninya sebagai dakwah agama. Dan ini perlu dibicarakan dalam
tingkat yang lebih tinggi dan iklim yang jernih, lepas dari emosi yang
berkobar-kobar dan meluap-luap.
Socrates telah dipaksa minum racun karena ia
dianggap berbahaya mengajarkan cara berpikir yang logis dialektis kepada para
pemuda dalam mencari kebenaran. Ia dihukum oleh orang-orang yang takut akan
kebenaran. Tapi kebenaran tidak turut binasa bersamanya.
Jakarta, 11 November 1968
[Horison, Tahun II No.11, November 1968]
Pendapat
Di
awal paragraf esai H.B. Jassin menuliskan mengenai sifat Tuhan menyebutkan
bahwa Tuhan Maha Melihat. Lalu apakah Ia punya Mata? Tuhan Maha Mendengar. Dan
apakah Ia punya Mulut serta Lidah? Kalau
Tuhan bisa murka sebagaimana dikatakan dalam Al-Quran, mengapa Ia tidak bisa
Tersenyum atau Tertawa? Apa pun pertanyaan dan jawaban kita, Tuhan selalu lebih
dari apa yang bisa kita gambarkan. Tuhan adalah Mukhalafat lil hawadith, berbeda dari segala yang baru.
Tuhan
yang Maha Besar terlalu sulit untuk dimengerti. Kita hanya bisa
menggambarkan-Nya dengan kemampuan masing-masing yang kita miliki dan kita tahu
bahwa apa yang digambarkan oleh diri kita ini bukanlah sosok Tuhan sebenarnya.
Namun kita sebagai manusia yang diberi dengan akal, bersedia untuk selalu
mencari apa yang belum kita ketahui.
Maka
apabila seorang pengarang atau seorang pelukis menggambarkan sosok Tuhan dengan
kata-kata, dengan lukisan, ataupun dengan patung, dia tahu bahwa itu bukanlah
Tuhan, tapi Ide Ketuhanan. Demikian pula orang lain, umat yang melihat, mereka
tahu bahwa itu bukanlah Tuhan, tapi ide Ketuhanan. Kita tidak boleh memersonifikasikan
Tuhan, walaupun hanya dalam imajinasi, itu sama saja dengan meniadakan Tuhan
dalam hati sanubari kita.
Jangankan
Kenyataan Tuhan, kenyataan manusia saja terkadang tidak bisa tercakup oleh
manusia. Misalnya saja saat seorang pengarang menuliskan tentang kehidupan H.B
Jassin, beliau merasa bahwa pengarang tidak sepenuhnya berhasil dalam melukiskan
seluruh eksistensi dirinya dan meskipun ada sudut-sudut negatif yang dituliskan
pengarang, beliau tidak merasa terkena, karena pandangan itu adalah pandangan
dari sudut si pengarang belaka. Beliau justru merasa lebih tahu dan dapat
mempertanggungjawabkan apa yang dianggap sebagai kesalahannya dari sudut yang
baik. Dan beliau tidak perlu marah, karena bagaimana pun juga, suatu hasil
karya adalah hasil imajinasi artistik yang tidak sama dengan kenyataan
objektif.
Orang
mengkhawatirkan apabila Tuhan digambarkan dengan sifat manusia, mungkin
orang-orang akan terlalu meremehkan-Nya. Misalnya saat Tuhan bisa sakit atau
mungkin mati. Tuhan itu tidak mungkin mati dan tidak akan mati walaupun banyak
orang mengatakan Tuhan telah mati. Mati itu hanya pengertian orang tersebut, atau
dalam arti yang lain sebagaimana matinya Nietzsche ialah Ide Ketuhanan dalam
hati manusia yang memperalat Tuhan untuk kepentingan diri sendiri.
H.B.
Jassin pernah bercakap-cakap pada seorang pelukis yang tidak leluasa
mengekspresikan dirinya dengan lukisan karena larangan agama yang tidak boleh
membuat bentuk benda yang bernyawa, baik manusia maupun binatang. Sedangkan
seniman Barat membuat gambaran Nabi Isa melalui lukisan yang digambarkan
sebagai sosok lelaki berambut panjang dan peristiwa-peristiwa dalam hidupnya
yang penuh dengan cinta kasih dan juga pengorbanan yang dilakukan untuk
umatnya. Mereka dalam imajinasinya menghayati kembali
perjalanan hidup nabinya dan orang yang melihat karya-karya mereka pun dapat
merasakan kembali suasana pengabdian yang tulus dan ikhlas itu. Dengan demikian
kita sebagai manusia seakan membuat ide abstrak yang diaktualisasikan supaya
dimengerti oleh manusia yang lainnya.
Sosok
Tuhan yang belum kita ketahui bagaimana rupanya, membuat kita sulit untuk meresapi
ibadah kita. Selalu terbayang pikiran, siapa sebenarnya Tuhan kita ini?
Bagaimana rupa-Nya? Bagaimana aku harus membayangkan sosok diri-Nya saat
bersujud dihadapan-Nya? Saat berdzikir pada-Nya, aku harus merasakan siapa?
Merasakan apa-Nya? Bila kita membayangkan tulisan Allah, apakah itu berarti
kita hanya menyembah tulisan tersebut? Apabila kita membayangkan ciptaan-Nya,
apakah itu berarti kita menyembah ciptaan tersebut?
Dalam
esai ini, H.B. Jassin berusaha menjelaskan tentang kekuasaan Tuhan yang dipahami
melalui imajinasi manusia yang nantinya akan melahirkan kebebasan dalam
mencipta. Maksudnya adalah menggambarkan kekuasaan Tuhan melalui hasil cipta
tangan manusia, namun sebenarnya dia tahu bahwa itu bukanlah Tuhan, tapi Ide
Ketuhanan. Tuhan tidak boleh dipersonifikasikan oleh manusia, walaupun hanya
dalam imajinasi, hal itu sama saja dengan meniadakan Tuhan dalam hati sanubari
kita.
Comments
Post a Comment